Tampilkan postingan dengan label Anak Usia Dini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Usia Dini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Desember 2014

Well, judulnya pasti membuat sebagian dari pembaca berpikir ya? saya ingin mengulas bagaimana menanamkan karakter kepada anak lewat teman sebaya dalam bahasa didaktik dikenal tutor sebaya atau peer teaching, karakter merupakan hal yang sangat bisa ditanamkan sejak usia dini, kenapa ? jawabannya karena pada dasarnya anak seperti kertas tisu yang menyerap air, mereka dapat menyerap apapun saja yang dilihat, disentuh dan didengarnya,  anak usia dini masih sangat rentan terhadap berbagai informasi yang didapatnya, baik itu informasi baik maupun yang merugikan dirinya. Dalam pelaksanaan pembelajaran pastinya terdapat beberapa anak yang menonjol baik dalam bidang kognitif maupun afektif dan psikomotornya, karakter anak yang unik dan heterogen pastinya dapat menjadi hal yang menguntungkan bila kita bisa mengkoordinir dengan baik, atau menjadi bomerang ketika kita salah dalam memberikan tindakan. Inti dari kalimat menanamkan karakter lewat teman sebaya sebenarnya merujuk pada kemampuan anak untuk bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungannya, pada masa usia dini sebagian besar anak melangsungkan kehidupan dengan kedua orang tuanya akan tetapi mereka menghabiskan waktunya untuk  bergaul dengan teman-temannya, hal yang perlu digarisbawahi sebenarnya adalah memanfaatkan teman yang baik dan menonjol sebagai sarana penanaman karakter anak didik kita, sebagai contoh ketika anak  yang mempunyai karakter yang kurang baik dan kemudian bermain dengan anak yang berkarakter baik, maka keduanya saling mempengaruhi, sebagai orang tua maupun pendidik alangkah bijaknya kita selektif dalam memilihkan teman anak kita, atau jika hal tersebut tidak dimungkinkan maka kita harus meluangkan waktu mendampingi anak kita bermain. Dalam sebuah komunitas bermain anak pastinya terdapat seorang leader yang berpengaruh sehingga diperlukan sebuah manajemen komunitas yang baik ketika terjadi hal tersebut. Kita manfaatkan teman yang mempunyai pengaruh tersebut kita tanamkan karakter-karakter seperti mengharagai teman, jujur, berperilaku sopan, dan dengan penuh kasih sayang kita berikan pengarahan untuk memberikan contoh kepada teman-temannya, dengan pengawasan yang baik maka seorang pendidik harus memberikan penguatan terhadap jalannya proses penanaman karakter.  

Rabu, 26 November 2014

Tiap huruf yang ku terima tiap kata yang ku eja tiap kalimat yang sebenarnya aku tak mengerti apa maksudnya, oh iya aku lupa kalau aku ini masih TK, tapi kenapa ya aku sudah harus bisa membaca ? penggalan dialog fiktif diatas mungkin yang pernah dirasa anak ketika sedang asyik bermain dan bercengkerama dengan temannya dan diminta untuk maju ke depan untuk mengeja huruf dan menuliskan kata demi kata yang sering dilakukan oleh seorang guru, inilah dinamika pendidikan anak usia dini di negara kita tercinta, para orang tua menciptakan sebuah iklim pemaksaan kepada anak-anaknya untuk bisa membaca, berhitung dan aktifitas kognitif lainnya yang notabene tidak adil dan secara tidak langsung akan mengkerdilkan kecerdasan-kecerdasan anak yang lain, seorang guru TK dituntut untuk membangun sebuah pondasi kecerdasan sebelum masuk usia sekolah mereka harus bekerja ekstra keras mendidik dan mengajar anak yang terkadang porsi mengajarnya lebih besar daripada porsi mendidiknya, bukan salah mereka sebenarnya ketika mereka melakukan semua itu, memang sebagian besar kita sebagai orang tua bangga jika anak kita yang baru TK  bisa membaca, menulis dan berhitung, tapi apakah kita semua sadar apa yang sebenarnya dibutuhkan anak untuk menghadapi dunianya yang masih begitu panjang?.
Anak usia dini sebenarnya berada dalam masa keemasan, dalam perkembangannya terdapat milyaran sel saraf yang masih dalam tahap berkembang di dalam otak, ketika ada rangsangan melalui sensor/indra mereka saraf-saraf dalam otak tersebut akan terhubung secara maksimal dan nantinya akan menjadikan anak tersebut berkembang secara baik.  Selama ini faktor kognitif atau kecerdasan kognitif yang didengung-dengungkan sebagai paramater bahwa anak itu cerdas, benarkah ? apakah kita mengira ketika anak mencium tangan kita berarti mereka itu tidak cerdas ? apakah kita mengira ketika mereka bertanya tentang suatu hal berarti mereka itu tidak cerdas ? apakah kita juga mengira ketika mereka bisa memainkan alat musik, berkomunikasi dengan hewan peliharaannya itu tidak cerdas ? silahkan bertanya pada diri kita sendiri, sejauh mana kasih sayang kita terhadap anak kita berikan, sejauh mana perhatian dan pendidikan kita berikan, jauh dalam lubuk hatinya anak sebenarnya tidak butuh kemewahan mereka hanya butuh keceriaan, ceria karena kasih sayang orang tuanya yang tak hanya berhenti pada pemenuhan materialnya saja, tetapi juga pemenuhan dari sisi yang lain yaitu kasih sayang dan perhatian. Jadi masihkah kita memaksa anak usia dini untuk bisa membaca ?

Selasa, 04 November 2014

  Dalam perkembangan dan pertumbuhan anak usia dini sering kita melihat seorang anak bersemangat ketika bermain dengan benda-benda yang menarik dan berwarna-warni, bahkan ketika disibukkan dengan mainannya sampai-sampai lupa waktu makan dan merasa dunia ini hanya ada dia dan mainannya, “mainanku adalah duniaku” mungkin itu tutur mereka dalam hati sehingga mereka begitu terbius dalam mainannya, bermain merupakan kegiatan utama anak oleh karena itu pendidikan anak usia dini dilakukan menggunakan prinsip bermain, Isenberg dan Quisenberry (1998) menyatakan “play – a dinamic, active and constructive behaviour – is a necessary and integral part of childhood, infancy through adolescense”, bagi anak, benda apa saja dapat dijadikan permainan. Di saat anak bermain anak berinteraksi dengan objek dan secara sadar atau tidak sadar ia belajar atribut dari objek tersebut. Maria Montessori berkata “anak bekerja dengan bermain”.  

    Kita sering mendengar anak ngoceh ketika bermain, ternyata ketika mereka mengoceh anak sedang mengungkapkan ide pikirannya. Proses tersebut dikenal dengan istilah thinking aloud, suatu proses berpikir yang oleh Lev Vygotsky seorang psikolog dari Rusia dikenal dengan istilah internal speech dimana anak bertanya pada dirinya, dibuktikan dengan melakukan percobaan pada objek dan diambil kesimpulan secara mandiri untuk menjawab pertanyaannya sendiri. Dengan kata lain bemain dengan objek dapat mengembangkan aspek intelektual.

    Sebagai pendidik anak usia dini sebenarnya kita sudah sering menjumpai tipe anak yang berbeda-beda dalam mengembangkan kecerdasannya, jika kita dihadapkan dengan tipe anak seperti ini bagaimana seharusnya kita bersikap ? membiarkannya asik dengan dunia bermainnya ? atau secara pelan-pelan mengarahkannya ke dalam kegiatan lain yang berimbang ? jawabannya ada di dalam hati kita masing-masing, idealnya jika kondisi tersebut di dalam kelas kita, sebagai seorang guru kita harus membuat sebuah time management yang baik dalam pembelajaran, terlalu banyak bermain mengakibatkan kecerdasan yang lain tidak berkembang secara maksimal, seperti kecerdasan emosional dan sosial karena terlalu asik dengan dunia bermainnya, sebaliknya jika anak tidak dibolehkan bermain maka juga akan berdampak pada psikologis anak dia akan cepat marah dan ngambek , sikap terbaik kita adalah berada ditengah - tengah, membiarkannya bermain dan selalu mengingatkan kalau bermain itu ada waktunya dan masih banyak hal menarik untuk dilakukan selain bermain dengan mainannya. 

Minggu, 02 November 2014

Kita akan menjadi seorang guru yang hebat jika kita tahu sejarah profesi kita, sepertinya ungkapan bung Karno presiden pertama kita "JASMERAH" berlaku juga untuk kita sebagai pendidik anak usia dini, sepanjang sejarah banyak tokoh telah menambah pemahaman kita tentang sifat-sifat anak dan cara terbaik untuk mendidik dan mengajari mereka, cerita singkat ini akan membantu kita dalam memahami sejarah pendidikan anak usia dini;

Marthin Luther (1483-1546)
Marthin Luther memiliki kontribusi besar dalam memperjuangkan pendirian sekolah untuk mengajari anak-anak membaca, dia memliki pengaruh besar dalam pendidikan yang universal dan mencari dukungan publik untuk ikut serta membangun pendidikan.

John Comenius (1592-1670)
John Amos Comenius menghabiskan waktunya untuk mengajar dan menulis buku. Dua dari bukunya yang terkenal adalah The Great Didactic dan Orbis Pictus (Dunia dalam Gambar) yang dianggap buku bergambar pertama untuk anak-anak. Comenius meyakini bahwa pendidikan harus dimulai di usia dini dia mengibaratkan sebuah tanaman muda dapat ditanam, dicangkok, dipangkas, dan dibentuk. Ketika sudah menjadi pohon yang besar, proses-proses tersebut tidak/sulit dilakukan.
Comenius juga berpendapat bahwa pendidikan sensorik menjadi dasar semua pembelajaran dan selama masih memungkinkan semua hal harus diajarkan lewat panca indera. Pendekatan ini diadaptasi dan disahkan oleh Montessori dan menjadi dasar bagi pengajaran pendidikan anak usia dini sampai saat ini.

John Locke (1632-1704)
John locke dikenal karena teorinya tentang pikiran bahwa anak-anak terlahir seperti kertas putih, anak-anak belajar dari lingkungan dan pengalaman secara harfiah membentuk pikiran mereka, perkembangan berasal dari rangsangang yang diterima anak dari orangtua serta pengalaman yang mereka peroleh dari lingkungan mereka.

Jean-Jacqeus Rousseau  (1712-1778)
JJ. Rousseau dikenal dengan bukunya yang berjudul Emile, dalam sebuah penggalan dalam karya tersebut tertulis "Tuhan menciptakan segalanya dalam keadaan baik; manusia mencampurinya dan segalanya menjadi jahat", karena keyakinannya tersebut Rousseau mendukung pendidikan "alami" untuk anak, mendukung perkembangan anak tanpa campur tangan atau batasan yang tidak diperlukan. Rousseau juga meyakini gagasan tentang keterbukaan, di mana sifat alami anak akan menjadi apa dan siapa mereka kelak. Pendekatan seperti inilah yang menjadi inti praktek pengajaran yang sesuai dengan perkembangan anak, dimana guru menyesuaikan cara mengajar mereka dengan tingkat perkembangan dan kemampuan anak.

Johann Heinrich Pestalozzi (1746-1827)
Johan Heinrich Pestalozzi dipengaruhi oleh pendapat Comenius dan Rousseau. Pestalozzi meyakini bahwa semua pendidikan berdasar pada kesan sensorik dan lewat pengalaman sensorik yang tepat, anak-anak dapat mencapai potensi alami mereka. Untuk mencapai tujuan ini Pestalozzi mengembangkan "pelajaran dan objek", alat bantu yang mendukung kegiatan seperti menghitung, mrngukur, merasakan, dan meraba. Pestalozzi juga menulis dua buku "How Gertrude Teaches Her Children" (Cara Gertrude mengajari anak-anaknya) dan "Book for Mothers" (Buku untuk para ibu) buku ini untuk membantu para orangtua mengajari anaknya dirumah, Heinrich lah yang mempelopori Home Schooling.

Robert Owen (1771-1858) 
Robert Owen meyakini bahwa lingkungan anak berpengaruh terhadap keyakinan perilaku dan prestasi mereka yang kita yakini sekarang ini, dia berpendapat bahwa seseorang dan masyarakat dapat menggunakan lingkungan untuk membentuk karakter anak, dia juga berpendapat bahwa pendidikan anak usia dini dapat mereformasi masyarakat.

Friedrich Wilhelm Froebel (1782-1852)
Friedrich Wilhelm Froebel dikenal sebagai "bapak taman kanak-kanak", konsep froebel tentang anak dan pendidikan sebagian berdasar pada konsep kedewasaan yang diungkapkan oleh Comenius dan Pestalozzi. Menurut Pandangan ini, peran pendidik adalah mengamati proses kedewasaan alami anak dan memberikan kegiatan yang membuat mereka mempelajari apa yang siap mereka pelajari ketika mereka siap mempelajarinya. Froebel mengibaratkan anak sebagai biji yang ditanam, mulai tumbuh, mengeluarkan tunas, dan tumbuh dari tanaman muda yang lemah menjadi tanaman yang siap menghasilkan buah. Ia mengumpamakan peran pendidik sebagai seorang tukang kebun. Pikirkan sejenak tentang cara kita menggunakan metafora guru sebagi seorang tukang kebun. 
Untuk meningkatkan kegiatan individual, Froebel mengembangkan kurikulum sistematis dan terencana untuk pendidikan anak berdasarkan "mainan, kegiatan, lagu, dan permainan edukatif". Sebagai contoh, kita mengajarkan huruf abjad dan konsep-konsep lain dengan lagu, menggunakan balok untuk mengajarkan bentuk, dan menggunakan balok untuk mengajarkan ukuran dan bentuk, dan menggunakan tangkai bewarna untuk mengajarkan konsep panjang dan urutan.

Maria Montessori (1870-1952)
Maria Montessori mengembangkan sebuah sistem untuk mendidik anak usia dini yang berpengaruh besar pada pendidikan anak usia dini. Sebagai wanita pertama di Italia yang mendapat gelar sarjana kedokteran, ia tertarik untuk mencari solusi pendidikan untuk masalah-masalah keterlambatan mental. Pada waktu itu ia mengatakan "Saya berbeda dengan rekan-rekan saya, karena saya secara instingtif merasa bahwa cacat mental lebih merupakan masalah pendidikan daripada kedokteran". Ketika sedang mempersiapkan diri untuk mendidik anak-anaknya. Montessori ditawari untuk mengelola sekolah anak-anak yang berasal dari keluarga-keluarga yang menempati rumah-rumah petak di Roma. Di sekolah pertama, yang diberi nama Casa Dei Bambini, atau rumah anak-anak, ia menguji coba ide-ide nya dan mendapat pengetahuan dari anak-anak dan pengajaran yang mengarahkannya kepada kesempurnaan sistemnya.

John Dewey (1858-1952)
Teori Dewey tentang pendidikan, yang biasanya disebut progresivisme, memberi penekanan pada anak-anak dan minat mereka bukan pada mata pelajaran. Dari penekanan yang berpusat pada anak ini muncul istilah-istilah kurikulum yang berpusat pada anak dan sekolah yang berpusat pada anak, dua topik yang menjadi perbincangan hangat pada abad ini, Dewey meyakini bahwa pendidikan adalah proses hidup dan bukan persiapan untuk menghadapi hidup di masa datang dan kehidupan sehari-hari harus menjadi sumber aktivitas dimana anak dapat belajar tentang kehidupan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam hidup.

Jean Piaget (1896-1980)
Teori Piaget menjelaskan cara orang berpikir, memahami, dan belajar. Piaget meyakini bahwa kecerdasan adalah proses kognitif atau mental yang digunakan anak untuk memperoleh pengetahuan. Kecerdasan adalah "mengetahui' dan melibatkan penggunaan operasi mental yang berkembang sebagai akibat dari tindakan mental dan fisik di lingkungan sekitar. Keterlibatan aktif adalah dasar teori Piaget yang menyatakan bahwa anak mengembangkan kecerdasan lewat pengalaman/praktek langsung di lingkungan fisik. Pengalaman praktek ini menjadi dasar bagi kemampuan otak untuk berpikir dan belajar. Teori Piaget merupakan cara pandang konstruktivis mengenai perkembangan. Proses konstruktivis didefinisikan sebagai pengalaman individu dalam mengorganisir, menyusun, dan mengulang proses seumur hidup dan berkelanjutan yang sesuai dengan skema yang ada dalam pikiran. Selanjutnya, skema tersebut dimodifikasi dan diperkaya seiring dengan interaksi dengan dunia dan keadaan sosial. Piaget meyakini bahwa adaptasi terdiri dari dua proses yang saling terkait dari dua proses yang saling terkait, asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah pengambilan data sensorik lewat pengalaman dan kesan serta penggabungan keduanya menjadi pengetahuan. Lewat asimilasi anak-anak menggunakan metode atau pengalaman lama untuk memahami informasi dengan pengalaman baru, dengan kata lain anak-anak menggunakan pengalaman mereka dan apa yang telah mereka pelajari dari pengalaman tersebut sebagai dasar untuk belajar lebih banyak. Akomodasi adalah proses merubah metode lama dan beradaptasi dengan situasi baru, sebagai contoh Robi memiliki beberapa kucing dirumah. Ketika pertama kali melihat anjing, ia mungkin menyebutnya anak kucing, ia telah mengasimilasi anjing ke dalam pengetahuannya tentang anak kucing, namun Robi harus merubah (mengakomodasi) model ciri-ciri anak kucing untuk mengecualikan anjing. Ia melakukan ini dengan mulai membangun atau menyusun skema untuk anjing dan apa yang mewakili ciri-ciri anjing. Keseimbangan, jika adaptasi berfungsi bersama-sama dengan asimilasi dan akomodasi, maka keseimbangan merupakan keselarasan antara kedua proses tersebut. Menurut teori Piaget tentang kecerdasan, karena asimilasi dan akomodasi berfungsi bersamaan, harus ada keseimbangan di antara keduanya untuk memungkinkan anak memahami data baru dengan  baik. 
Piaget menggunakan istilah skema untuk merujuk pada satuan pengetahuan yang dikembangkan anak lewat adaptasi. Piaget meyakini bahwa dalam proses pengembangan skema baru, aktiftas fisik sangatlah penting.  Aktifitas fisik mengarah pada rangsangan pikiran , yang kemudian mengarah kepada aktivitas mental - konsep pikiran dan praktek kita. Guru dan orangtua harus menyediakan ruang kelas dan rumah yang mendukung proses belajar aktif dengan memungkinkan anak untuk mengekslorasi dan berinteraksi dengan orang lain dan objek-objek dengan cara yang bermakna. 



-George S. Morrison. Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini.-
Sebagai seorang pendidik anak usia dini kita dihadapkan pada sebuah tantangan yang besar, usia dini adalah masa dimana anak berada dalam proses yang unik karena anak masih ada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang berkesinambungan, pertumbuhan berkenaan dengan hal yang bersifat kuantitatif dan measurable (dapat diukur) seperti berat badan, tinggi badan, pertumbuhan rambut dan sebagainya sedangkan perkembangan lebih menitik beratkan pada hal yang bersifat kualitatif dan tidak dapat diamati secara kasat mata serta sulit untuk mengukur tingkat perkembangannya; seperti tingkat kecerdasan, imajinasi, serta daya nalar anak,  kedua hal ini yang menjadi modal awal pendidik untuk senantiasa  mengerti dan memahami karakteristik anak didik mereka, anak-anak harus dididik dengan dihormati dan dihargai, menghormati dan menghargai anak adalah landasan penting bagi program pengajaran yang baik dan berkualitas.

Dalam pembahasan kali ini, kita akan sama-sama belajar tentang teori belajar anak usia dini, teori berkenaan dengan pernyataan tentang prinsip-prinsip dan gagasan-gagasan yang mencoba menjelaskan kejadian-kejadian dan bagaimana hal tersebut terjadi; sedangkan belajar adalah proses mempelajari pengetahuan, perilaku, keterampilan dan sikap. Sebagai hasil dari pengalaman anak-anak mengalami perubahan dalam perilaku, pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka. Jadi kita juga dapat memandang  belajar sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam perilaku setelah mengalami suatu hal dalam kurun waktu tertentu, seperti contoh anak-anak yang lulus TK tidak lagi seperti pada saat mereka masuk TK, Perkembangan anak merupakan kajian tentang bagaimana anak berubah seiring dengan berjalannya waktu dari mereka lahir (neonatal) sampai dengan usia 6 tahun. teori tentang cara anak belajar dan berkembang adalah bagian penting dari praktek profesional sebagai seorang pendidik, 

Urgensi dari mempelajari teori belajar anak usia dini bagi seorang pendidik adalah pertama teori mampu membangun sebuah komunikasi yang baik kepada anak-anak serta orang tua mereka, teori memudahkan seorang guru untuk menjelaskan sesuatu kepada orang lain, terutama orang tua anak didik kita; kemudian yang kedua teori juga memudahkan kita untuk mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran anak, teori menjelaskan perilaku dan mengidentifikasi apa yang dapat dikerjakan anak dalam usia tertentu; dan yang ketiga teori membantu kita memahami bagaimana, mengapa, di mana dan kapan proses belajar terjadi, sebagai contoh apa yang diyakini Piaget sebagai cara anak belajar berpengaruh langsung terhadap pengaturan kelas dan apa yang akan diajarkan dan cara mengajarkannya.

background